Rabu, 26 Juli 2017

Cara Menghitung Zakat Profesi Berdasarkan Pengeluaran

Tidak ada komentar :
zakat profesi

Zakat profesi atau zakat penghasilan (al-mal al-mustafad) merupakan zakat yang diberlakukan pada setiap pekerjaan atau profesi tertentu baik yang dilakukan sendiri/individu maupun bersama orang lain atau di bawah badan atau lembaga usaha yang menghasilkan uang yang halal serta telah memenuhi nishab atau batas minimal pengenaan zakat. Pekerjaan yang dimaksud antaranya adalah pegawai negeri atau swasta, pejabat, dokter, pengacara, konsultan, dosen atau guru dan sebagainya. Hukum zakat profesi atau penghasilan ini berbeda pendapat di antara para ulama fiqh.

Namun, mayoritas ulama pada empat madzhab tidak mewajibkan zakat profesi atau penghasilan sebelum mencapai nishab dan haul (masa satu tahun), namun ulama-ulama mutaakhirin seperti Syekh Abu Zahro, Abdurrahman Hassan, Abdul Wahhab Khallag, Yusuf Al Qordhowy dan sebagainya menegaskan bahwa zakat penghasilan hukumnya wajib dan ini menjadi landasan hasil kajian majma’ fiqh dan fatwa MUI nomor 3 tahun 2003. Hal ini juga mengacu berdasarkan pendapat beberapa sahabat seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan Mu’awiyah dan beberapa ulama fiqh lainnya.

Allah SWT juga berfirman pada QS At-Taubah ayat 103 yang berisi “..ambillah olehmu zakat yang berasal dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka...”. Demikian pula pada QS Al-Baqarah ayat 267 yang berisi perintah untuk menafkahkan sebagian dari hasil usaha yang baik. Sedangkan pada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi bahwasanya Rasulullah memerintahkan untuk mengeluarkan sebagian zakat dari harta yang kita miliki. Untuk cara menghitung zakat profesi diambil dari 2 macam pengeluaran yaitu bruto dan netto maka mungkin akan dihasilkan jumlah yang berbeda:

1. Pengeluaran bruto.
Yaitu zakat yang dikeluarkan dari pengeluaran kotor atau belum dipotong dengan kebutuhan pokok dan tanggungan-tanggungan lain seperti cicilan atau hutang. Jumlah nishabnya adalah 85 gram dalam setahun dan dikeluarkan langsung 2,5% pada saat penerimaan sebelum dikurangi yang lain-lainnya. Hal ini berdasarkan pendapat dari Az-Zuhri dan Auza’i yaitu anjuran untuk berzakat setelah menerima penghasilan sebelum membelanjakannya untuk hal lainnya atau seperti meng-qiyashkan dengan zakat ternak, emas/perak, rikaz dan ma’dzan.

2. Pengeluaran netto.
Zakat dikeluarkan dari penghasilan yang sudah dikurangi dengan kebutuhan pokok serta tanggungan lainnya seperti hutang atau cicilan. Sehingga jumlah zakat yang dibayarkan pada penghasilan bersih ini jumlahnya akan berbeda dengan zakat pada pengeluaran bruto. Jadi selama Anda belum mencapai nishab maka tak ada kewajiban untuk membayar zakat. Lebih utamanya tetap mengeluarkan zakat pada penghasilan yang masih kotor sehingga tidak dikhawatirkan ada harta yang belum dizakati, apabila memang ada lebihnya maka bisa dianggap sebagai shodaqoh atau sedekah yang mana baik zakat maupun shodaqoh sama-sama memiliki keutamaan yang luar biasa dan tidak akan mengurangi harta sedikitpun.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar :

Posting Komentar